PERINGATAN HARI MENANAM POHON INDONESIA DAN BULAN MENANAM NASIONAL TAHUN 2016

Puncak peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) dan Bulan Menanam Nasional (BMN) Tahun 2016 Tingkat Nasional dilaksanakan di Desa Tasikhajo Kecamatan Jenu Kabupaten Tuban Jawa Timur pada tanggal 28 November 2016. Acara ini dipimpin langsung oleh Presiden RI Joko Widodo dan dihadiri Ibu Negara Iriana Widodo, para Menteri Kabinet Kerja, Pimpinan Lembaga Tinggi Negara, TNI, Polri, Duta Besar Negara Sahabat, United Nations for Environment Programme (UNEP), Pemerintah Provinsi dan Kabupaten di Jawa Timur, pelajar/mahasiswa dan masyarakat sekitar lokasi.

Acara HMPI dan BMN Tahun 2016 ini berbeda dengan peringatan tahun sebelumnya, peringatan kali ini disertai dengan pemecahan rekor dunia (Guinness World Records) penanaman pohon dalam waktu 60menit. Pada peringatan ini, berhasil ditanam sejumlah 238.000 pohon dalam waktu 60 menit secara serentak pada satu tempat, sehingga berhasil memecahkan rekor menanam 223.000 pohon  dalam waktu 60 menit yang sebelumnya dipegang oleh Filipina.

Tema yang diangkat pada HMPI dan BMN 2016 adalah “Pohon dan Hutan Rakyat, untuk Kehidupan, Kesejahteraan dan Devisa Negara”. Tema ini relevan dengan kondisi Indonesia yang tengah mendorong peningkatan nilai ekonomi (green economy) dalam pengelolaan hutan. Kegiatan rehabilitasi lahan melalui hutan rakyat yang selama ini terus dilaksanakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, telah memberikan kontribusi  nyata dalam perbaikan lingkungan dan pertumbuhan industri pengolahan kayu.  Oleh karenanya, Direktorat Jenderal Pengendalian DAS dan Hutan Lindung akan terus mendorong pengembangan hutan rakyat melalui kegiatan pembuatan Kebun Bibit Rakyat (KBR) dan bantuan 50 juta bibit gratis per tahun dari persemaian permanen yang dikelola oleh Balai PDASHL di Seluruh Indonesia.

Kegiatan HMPI dan BMN tahun 2016 ini terselenggara atas kerjasama yang terjalin antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan sejumlah pihak seperti Pemerintah Daerah, Perhutani, serta Koperasi Produsen Anugerah Bumi Hijau (KOPRABUH). Penanaman pohon serentak melibatkan 5.500 masyarakat tani, pelajar, mahasiswa, pramuka beserta tamu undangan dan masyarakat setempat. Tim penilai Guinness World Records melakukan penganugerahan dan pencatatan Rekor Dunia kepada KOPRABUH sebagai inisiator. Ajang pemecahan rekor dunia penanaman serentak merupakan rangkaian Peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) dan Bulan Menanam Nasional (BMN) 2016.

Dalam sambutannya, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa saat kita menanam pohon, berarti kita menanam doa dan harapan untuk keberlanjutan generasi yang akan datang. Selain memperbaiki lingkungan, menanam juga harus memberikan manfaat langsung terhadap kesejahteraan masyarakat. Perlu dikembangkan sebuah model yang mampu mengkorporasikan petani, nelayan dan koperasi. Dengan cara seperti itulah dalam skala besar diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi yg lebih jelas. Pergerakan ekonomi kita pun akan semakin baik. “Program ini akan saya ikuti terus, kalau baik akan kita kembangkan di provinsi dan kabupaten kota lainnya,” tegas Jokowi.

HMPI 2016 juga erat kaitannya dengan andil Indonesia dalam mengendalikan perubahan iklim. Langkah mitigasi dengan penanaman pohon merupakan salah satu upaya mengurangi emisi karbon. Hal ini sejalan dengan tujuan utama Paris Agreement untuk menahan laju kenaikan suhu bumi tidak lebih dari 20C atau sedapatnya menekan hingga 1,50C. “Kegiatan ini juga menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia berperan signifikan dalam leading way penanganan perubahan iklim  pada Konferensi Perubahan Iklim Dunia, COP 22 Maroko, 7-18 November yang lalu terkait aksi nyata pengendalian perubahan iklim.” ujar Menteri LHK Siti Nurbaya saat menyampaikan laporan.

Total pohon yang ditanam pada HMPI 2016 mencapai 238.000 batang terdiri dari 200.000 batang kaliandra (Calliandra calothyrsus) dan 38.000 batang jati (Tectona Grandis) pada areal seluas 23 hektar. Kaliandra merupakan jenis pohon berumur pendek yang dapat dipanen dalam 2 tahun. Kayu dari tanaman kaliandra ini akan ditampung untuk memenuhi kebutuhan bahan baku energi, selain itu bunga  kaliandra merupakan salah satu makanan bagi lebah madu. Sementara, tanaman jati memiliki nilai ekonomi tinggi dan mampu memberikan keuntungan dalam jangka panjang. Kedua jenis pohon ini ditanam berdampingan. Oleh karena itu, masyarakat dapat mengambil manfaat ekonomi jangka pendek melalui kaliandra dan jangka panjang melalui jati.

Pada HMPI dan BMN 2016 kali ini Menteri LHK Siti Nurbaya dengan didampingi Ketua KOPRABUH menyerahkan penghargaan dan pemberian sertifikat adopsi pohon. Pada kesempatan ini juga Presiden menyerahkan penghargaan kepada Gubernur, Bupati dan Walikota pemenang Lomba Penanaman dan Pemeliharaan Pohon Tahun 2015. Untuk tingkat provinsi: Jawa Timur, Aceh dan Sulawesi Utara; tingkat Kabupaten: Cilacap, Kuningan, dan Lampung Timur; tingkat kota: Cimahi, Metro Lampung, dan Balikpapan.

Pemerintah telah menuangkan program penanaman dalam RPJMN tahun 2015-2019 pada lahan kritis seluas + 5,5 juta hektar dengan alokasi 1,25 juta ha/tahun. Untuk mempercepat tercapainya target rehabilitasi ini, Kementerian LHK bekerjasama dengan sejumlah pihak, diantaranya dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi, setiap siswa setidaknya menanam lima pohon saat SD, lima pohon saat SMP, lima pohon saat SMA dan lima pohon untuk mahasiswa perguruan tinggi. Disamping itu, berdasarkan kesepahaman dengan Kementerian Agama telah diatur agar setiap pasangan mempelai baru harus menanam lima batang pohon. Sehingga setiap orang menanam pohon setidaknya 25 batang pohon selama hidupnya.

Sudah saatnya semangat menanam pohon tertanam dalam diri kita. Menanam pohon merupakan upaya menyelamatkan bumi, menjaga keanekaragaman hayati, menurunkan iklilm mikro, menjaga erosi dan tanah longsor, serta memberikan oksigen bagi kehidupan

 

 

Bantuan Alat Pelubang Biopori Oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Pemda Kota Bogor dan Himpunan Alumni IPB (HA-IPB) menyelenggarakan acara Aksi Hijau Nusantara (AHN) yang bertujuan mengajak masyarakat untuk menerapkan gaya hidup ramah lingkungan sekaligus mensosialisasikan tata cara pengelolaan sampah melalui gerakan 3R (Reduce-Reuse-Recycle).

Puncak acara AHN 2016 diselenggarakan pada hari Minggu, 31 Juli 2016 di halaman Kodim 0606 Kota Bogor bersamaan dengan acara rutin car free day di jalan Jenderal Sudirman Kota Bogor. Acara ini dihadiri oleh Ibu Siti Nurbaya Bakar (Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan), Bapak Bima Arya (Walikota Bogor), Bapak Herry Suhardiyono (Rektor IPB) dan Bapak Bambang Hendroyono (Sekjen KLHK/Ketua HA-IPB) bersama dengan ribuan warga Bogor dan Alumni IPB untuk melakukan Aksi Hijau Nusantara (AHN) 2016. Dimulai dari halaman Kodim 0606 Kota Bogor, Menteri LHK bersama masyarakat melakukan aksi “Bersih Bogor” diantaranya dengan memungut sampah, memasang dan memperbanyak tong/tempat sampah di area publik,  menanam pohon, serta membuat lubang resapan biopori (LRB). Pada kesempatan tersebut, Direktorat Jenderal PDASHL memberikan bantuan 200 alat pembuat Lubang Resapan Biopori  kepada masyarakat yang diserahkan oleh Menteri Kehutanan. 

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Pemda Kota Bogor dan Himpunan Alumni IPB (HA-IPB) menyelenggarakan acara Aksi Hijau Nusantara (AHN) yang bertujuan mengajak masyarakat untuk menerapkan gaya hidup ramah lingkungan sekaligus mensosialisasikan tata cara pengelolaan sampah melalui gerakan 3R (Reduce-Reuse-Recycle).

Puncak acara AHN 2016 diselenggarakan pada hari Minggu, 31 Juli 2016 di halaman Kodim 0606 Kota Bogor bersamaan dengan acara rutin car free day di jalan Jenderal Sudirman Kota Bogor. Acara ini dihadiri oleh Ibu Siti Nurbaya Bakar (Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan), Bapak Bima Arya (Walikota Bogor), Bapak Herry Suhardiyono (Rektor IPB) dan Bapak Bambang Hendroyono (Sekjen KLHK/Ketua HA-IPB) bersama dengan ribuan warga Bogor dan Alumni IPB untuk melakukan Aksi Hijau Nusantara (AHN) 2016. Dimulai dari halaman Kodim 0606 Kota Bogor, Menteri LHK bersama masyarakat melakukan aksi “Bersih Bogor” diantaranya dengan memungut sampah, memasang dan memperbanyak tong/tempat sampah di area publik,  menanam pohon, serta membuat lubang resapan biopori (LRB). Pada kesempatan tersebut, Direktorat Jenderal PDASHL memberikan bantuan 200 alat pembuat Lubang Resapan Biopori  kepada masyarakat yang diserahkan oleh Menteri Kehutanan. 

PENANAMAN DALU-DALU DI SEMPADAN DANAU SINGKARAK TANGGAL 27 JULI 2016

Danau Singkarak merupakan danau terbesar kedua di pulau Sumatera setelah Danau Toba dan menjadi danau terbesar di Provinsi Sumatera Barat, terletak di Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok, memiliki luas 11.200 ha dengan kedalaman rata-rata 178.68 m, merupakan danau vulkanis yang berasal dari bekas letusan gunung berapi yang terjadi pada masa Kwarter. Sumber air Danau Singkarak berasal dari beberapa sungai, terutama dari Sungai Sumpur yang masuk dari sebelah utara, Sungai Paninggahan sebelah barat, dan Sungai Sumani dari sebelah selatan dengan luas daerah tangkapan air 129.000 hektar. Outlet Danau Singkarak secara alami keluar mengalir ke Sungai Ombilin yang bermuara ke pantai timur pulau Sumatera. Semenjak tahun 1998 air Danau Singkarak lebih banyak volumenya dialirkan melalui terowongan PLTA Singkarak ke daerah Asam Pulau Lubuk Alung untuk menghasilkan energi listrik 175 MW dan bermuara ke samudera Hindia di wilayah Kabupaten Padang Pariaman.


Danau Singkarak memiliki potensi sumberdaya alam dan budaya yang cukup besar yakni  potensi sumberdaya alam terdiri dari lingkungan fisik dan biologi (hayati). Lingkungan fisik yang menjadi daya tarik Danau Singkarak adalah hamparan danau yang luas dengan air yang tenang, bukit-bukit yang mengelilingi danau, pohon-pohon yang tumbuh di sepanjang tepian danau yang menjadi pembatas antara daratan dan air, lingkungan yang asri dan hawanya yang sejuk, dan sungai-sungai terdapat di sekitar danau. Di Danau ini hidup 19 jenis ikan ekonomis penting, namun yang popular untuk  menjadi potensi wisata bagi Danau Singkarak adalah adanya biota endemik ikan bilih (Mystacoleucus padangensis). Ikan endemik ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung untuk melihat secara langsung atau sekedar mencicipi cita rasa makanan ikan bilih. Salah satu icon pariwisata Sumatera Barat yang terkenal ke mancanegara adalah tour de Singkarak. Selain kegiatan pariwisata dan penangkapan ikan di danau ini,  sudah mulai ada kegiatan budidaya ikan dengan sistem Karamba Jaring Apung (KJA). 

Permasalahan di daerah tangkapan air Danau Singkarak adalah terdapat pemanfatan lahan yang tidak sesuai dengan tata guna lahan, terdapat lahan kritis, erosi di musim hujan dan adanya pencemaran karena masuknya limbah rumah tangga dan industri kecil di sepanjang daerah aliran sungai yang bermuara ke Danau Singkarak. Pembangunan pemukiman di daerah sempadan danau dan pembuangan sampah oleh masyarakat juga menurunkan nilai estetika danau ini. Kondisi demikian dapat dinyatakan bahwa beban limbah bahan organik yang masuk ke badan air Danau Singkarak semakin meningkat. Bahan organik tersebut dapat berasal dari limbah rumah tangga, industri kecil, limbah pertanian dan peternakan, pariwisata dan beban dari aktifitas kegiatan perikanan Keramba Jaring Apung (KJA). 

 

Berdasarkan keunikan dan permasalahan Danau Singkarak maka sudah banyak program yang telah dikembangkan dan dijalankan, namun masih bersifat sporadis, dan seringkali berbenturan dengan kewenangan dan tanggung jawab, sehingga hasilnya kurang optimal.

Badan Pengelola Kawasan Danau Singkarak (BPKDS),  Ikatan Keluarga Kabupaten Solok (IKKS) dan Kerukunan Keluarga Tanah (KKTD) melaksanakan rangkaian kegiatan Lokakarya Akselerasi Pemberdayaan Danau Singkarak Dalam Meningkatkan Pariwisata dan Perekonomian Masyarakat Berbasis Syariah dengan tujuan untuk menjaga kelestarian ekosistem danau Singkarak. 

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, khususnya Direktorat Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung berpartisipasi melalui kegiatan penanaman 5.000 pohon Dalu-Dalu di sempadan danau Singkarak seluas 5 ha, bersama dengan masyarakat sekitar danau. Dalu-Dalu (Salix tetrasperma roxd) adalah pohon yang hidup di pinggir danau/sungai dengan perakaran berada di dalam air, seperti tumbuhan mangrove. Perakaran pohon dalu-dalu berfungsi sebagai tempat berpijahnya ikan, udang, dan organisme danau yang sejenis.  Selain itu, daunnya dapat digunakan sebagai obat demam. Perbanyakan tanaman dalu-dalu dapat melalui biji atau dengan stek batang, pada umumnya perbanyakan dilakukan melalui stek batang. Batang yang dipotong untuk dijadikan bibit tanaman dalam polybag sepertiganya tingginya digenangi air. Setelah 2 atau 3 bulan dapat dipindahkan ke lapangan. Bibit yang dipindahkan ke lapangan harus yang sudah kuat, sekurang-kurangnya memiliki tinggi lebih 50 cm, agar tahan terhadap terpaan ombak atau pasang surut air danau.

 

Wakil Presiden RI Mencanangkan Penanaman Bambu Nasional

Bambu memiliki segudang manfaat, baik dari sisi ekologi, maupun dari sisi ekonomi. Dari sisi ekonomi semua bagian tanaman bambu mulai dari akar, batang, daun, kelopak batang hingga rebung (tunas muda) dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, antara lain untuk; bahan bangunan, makanan, furniture, bambu lamina, kertas, alat rumah tangga, kerajinan, energy arang, tektil sampai dengan bahan kimia dan obat-obatan.Akar tanaman dapat berfungsi sebagai penahan erosi guna mencegah bahaya banjir dan longsor dan menyerap limbah beracun terutama merkuri melalui serabut-serabut akarnya. Disamping itu, akar bambu mampu mengikat air sehingga bermanfaat sebagai pelestari mata air ataupun sumber-sumber air lainnya. Satu rumpun bambu mampu menyimpan rata-rata 5.000 liter air, selain itu hutan bambu juga mampu menyerap 50 ton CO2/ha/thn. Dengan  fungsi dan manfaat bambu yang sangat baik dan beragam tersebut maka pemanfaatan tanaman bambu untuk tujuan rehabilitasi lahan kritis dan perbaikan lingkungan serta untuk pengembangan industri merupakan pilihan jenis yang sangat tepat dan menguntungkan baik dari segi ekonomi maupun ekologi.


 

Oleh karenanya, Wakil Presiden RI, M Jusuf Kalla, terinspirasi untuk mencanangkan penanaman bambu nasional yang dilaksanakan di Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan pada hari Sabtu, 10 Agustus 2016. Pada kesempatan pencanangan tersebut, Jusuf Kalla meresmikan sekaligus melakukan  penanaman simbolis penanaman bambu jenis Pattung/ Betung (Dendrocalamus asper) di lahan seluas 5,5  hektar di Kelurahan Lanna, Kecamatan Parang Loe, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Sulawesi Selatan menjadi lokasi awal pencanangan Penanaman Bambu Nasional yang menargetkan penanaman 100 juta rumpun Bambu di Seluruh Indonesia. Di Sulawesi Selatan sendiri ditargetkan akan ditanaman 10 juta rumpun bambu.

 

”Bagaimana cara memelihara lingkungan terutama sungai dengan murah, hasilnya bertahan dan tidak gersang, maka salah satunya tentu dengan menanam pohon. Dan pohon yang efektif dan berguna bagi masyarakat serta cepat dan tahan hidup dilereng-lereng dan dimanapun adalah bambu. Bambu juga mempunyai manfaat dari akar, batang sampai danunnya. Oleh karena itu timbulah pemikiran bahwa budidaya bambu harus kita kerjakan ulang,” kata JK.

 

Menurut JK salah satu indikator keberhasilan penghijauan adalah kualitas sungainya. “Sungai dimanapun di Indonesia banyak yang tidak biru airnya. Karena itu saya bilang ukuran keberhasilan penghijauan adalah sungai, kalau air sungainya biru berarti berhasil, kalau air sungainya keruh berati belum berhasil, itu saja ukurannya. Karena itulah maka salah satu caranya melibatkan masyarakat untuk penghijauan,”tuturnya.

 

Digaungkannya Gerakan Penanaman Bambu Nasional ini adalah agar masyarakat  dapat terberdayakan dan diperoleh biaya yang efisien untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kemanfaatan dari tanaman bambu.

 

“Akhirnya dipilihlah metode gerakan nasional yang bermanfaat untuk masyarakat dan lingkungan, pemerintah bisa membiayai dengan murah tidak perlu pemerintah harus terjun langsung, tetapi dengan menggerakan mayarakat. Itu program yang paling mudah, paling cepat, paling terawasi, masyarakat akan mengawasinya karena akan bermanfaat untuk dirinya. Jangan lewat proyek yang besar-besar yang tidak bisa diperiksa”,jelasnya.

 

Direktorat Jenderal Pengendalian DAS dan Hutan Lindung Kementerian LHK optimis gerakan ini akan berhasil, karena bambu merupakan tanaman yang mempunyai berbagai manfaat. Kegiatan penghijauan dengan tanaman bambu akan meningkatkan fungsi hidroorologis bagi lingkungan, dan juga mempunyai manfaat ekonomi bagi masyarakat.  Targetnya adalah 100 juta batang bambu, sedangkan di Sulawesi Selatan ini akan ditanam sebanyak 10 juta batang bambu. Oleh karena itu, Kementerian LHK telah mendorong Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Kehutanan untuk Provinsi Sulsel dan di Pulau Jawa untuk melaksanakan penanaman bambu dengan memanfaatkan DAK. 

 

Pejabat tinggi yang juga hadir dalam Pencanangan Penanaman Bambu Nasional, antara lain Menteri Telekomunikasi dan Informatika, Gubernur Sulawesi Selatan, Bupati Gowa, Kepala BRG, serta Unsur dari TNI/Polri.

 

 

 

 

PRESIDEN TANAM POHON DI PULAU SAMOSIR

PRESIDEN RI Joko Widodo beserta Ibu Negara Iriana mencanangkan pemulihan ekosistem danau toba dengan melakukan penanaman pohon di Kebun Raya Samosir Kabupaten Samosir Sumatera Utara Minggu (21/08/2016). Penanaman tersebut dilaksanakan untuk menggugah dan memotivasi masyarakat untuk melaksanakan kerja nyata dalam pemulihan ekosistem Danau Toba.


Danau Toba merupakan salah satu dari 15 danau yang menjadi prioritas nasional untuk dipulihkan, namun saat ini kondisi Danau Toba sangat memprihatinkan, ditandai dengan adanya 5.600 keramba jaring apung (KJA) yang menghasilkan limbah organik tinggi, pencemaran air dari kegiatan pertanian, peternakan, dan rumah tangga, serta luas lahan kritis Daerah Tangkapan Air (DTA) yang telah mencapai 21 % (157.000 hektar) dari luas daerah tangkapan air Danau Toba. Lahan kritis tersebut merupakan akibat adanya kebutuhan lahan untuk pertanian dan perambahan pada kawasan lindung yang merupakan daerah tangkapan air danau Toba.


Kondisi yang memprihatinkan tersebut, mendorong Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terus melakukan kampanye dan himbauan kepada masyarakat sekitar Danau untuk berpartisipasi dalam penanaman pohon dan perbaikan lingkungan, selain upaya nyata menyelamatkan ekosistem Danau Toba, dengan mempertahankan fungsi hutan dan lahan dengan penanaman dan pemeliharaan sabuk hijau pada sempadan danau dan sungai, dimana sejak tahun 2012 telah ditanam seluas 6.446 Ha, pengelolaan hutan melalui skema Hutan Kemasyarakatan (HKm) dan Hutan Desa (HD), Pengendalian pencemaran air melalui penetapan daya tampung beban pencemaran air serta penertiban budidaya perikanan, Penataan kebijakan melalui penetapan zonasi pemanfaatan perairan danau serta mengarahkan kepada Gubernur, Bupati/Walikota dan Pimpinan BUMN/BUMS/BUMD untuk mengalokasikan dana bagi penanaman dan pemeliharaan pohon 1% dari total anggaran APBD dan 10% dari total dana CSR perusahaan setiap tahun papar Hilman Nugroho, Dirjen Pengendalian DAS dan Hutan Lindung Kementerian LHK.


Kegiatan penanaman tersebut juga dihadiri beberapa Menteri Kabinet Kerja, diantaranya Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Gubernur Sumatera Utara Tengku Erry Nuradi juga turut serta bersama ribuan warga setempat dan para pelajar.


Pada kesempatan tersebut Presiden RI, Jokowi menanam jenis Manggis (Garcinia Mangostana), sementara ibu Iriana menanam pohon Mangga (Mangifera Indica) di Kebun Raya Samosir. Beliau meminta betul kepada masyarakat untuk betul-betul merawat pohon yang sudah ditanam.


"Yang sudah ditanam, saya minta dirawat dan diawasi agar betul-betul tumbuh," kata Jokowi di Pulau Samosir, ucapnya dihadapan ribuan warga Samosir.


Keberhasilan rehabilitasi hutan dan lahan tidak hanya tergantung pada upaya pemerintah pusat, akan tetapi juga tergantung pada peran dari masyarakat dan pemerintah setempat, termasuk para pelaku usaha.

Musyawarah Masyarakat Adat Batak Dukung Pelestarian Danau Toba

http://sim-pdashl.menlhk.go.id/images/LHK_7583.JPG

Musyawarah Masyarakat Adat Batak 2016 berbeda dengan tahun–tahun sebelumnya, kali ini kegiatan dimaksud didahului dengan kegiatan perbaikan lingkungan melalui penanaman pohon di Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba. Panitia Penyelenggara bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), menggagas kegiatan tersebut sebagai upaya untuk membangkitkan kesadaran bersama dalam restorasi lingkungan danau toba.

Galeri Video

Kalendar

December 2016
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

LOGIN